27 Mar 2013

Analisis unsur intrinsik puisi


BAB I
PENDAHULUAN


1.1.  Latar Belakang

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa sastra Indonesia ialah sastra berbahasa Indonesia, sedangkan hasilnya adalah sekian banyak puisi, cerita pendek, novel, roman, dan naskah drama berbahasa Indonesia. Akan tetapi definisi yang singkat dan sederhana itu didebat dengan pendapat yang mengatakan bawa sastra Indonesia adalah keseluruhan sastra yang berkembang di Indonesia selama ini.[1]

Karya sastra sebagai hasil cipta manusia selain memberikan hiburan juga sarat dengan nilai, baik nilai keindahan maupun nilai- nilai ajaran hidup. Orang dapat mengetahui nilai- nilai hidup, susunan adat istiadat, suatu keyakinan, dan pandangan hidup orang lain atau masyarakat melalui karya sastra. Dengan hadirnya karya sastra yang membicarakan persoalan manusia, antara karya sastra dengan manusia memiliki hubungan yang tidak terpisahkan. Sastra dengan segala ekspresinya merupakan pencerminan dari kehidupan manusia. Adapun permasalahan manusia merupakan ilham bagi pengarang untuk mengungkapkan dirinya dengan media karya sastra. Hal ini dapat dikatakan bahwa tanpa kehadiran manusia, sastra mungkin tidak ada.[2]

Sastra juga dapat dikatakan menghibur dengan cara menyajkan keindahan, memberikan makna terhadap kehidupan (kematian, kesengsaraan, maupun kegembiraan), atau memberikan pelepasan ke dunia imajinasi seperti puisi.[3]

Puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif). Kata-kata betul-betul terpilih agar memiliki kekuatan pengucapan.[4] Sedangkan puisi anak biasanya berkaitan dengan permainan bunyi sebagai sarana untuk menciptakan keindahan puisi. Selain karena anak yang menyukai bunyi yang merdu, puisi adalah rangkaian dari kata-kata yang enak (merdu) untuk didengarkan. Artinya, pemilihan kata dalam puisi, selain untuk keperluan makna, juga diberdayakan untuk keperluan estetis terutama bunyi.[5]



1.2.        Rumusan Masalah
1.2.1 Apa itu puisi anak ?
1.2.2 Bagaimana kajian strukturalisme pada puisi anak ?










BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Pengertian Puisi Anak

Sebuah bentuk sastra disebut puisi jika di dalamnya terdapat pendayagunaan berbagai bahasa untuk mencapai efek keindahan. Bahasa puisi tentulah singkat dan padat, dengan sedikit kata, tetapi dapat mendialogkan sesuatu yang lebih banyak.

Penjelasan di atas mengindikasikan bahwa pengertian puisi anak tidaklah sebias pengertian puisi dewasa karena puisi anak, tentu seperti dengan perkembangan pengetahuan dan perasaan anak, masih sederhana. Oleh karenanya, dengan mencermati aspek tipografi, bahasa, dan isinya, kita bisa membedakan apa yang disebut puisi anak. Secara tipografi, puisi anak ditulis dalam bentuk bait-bait, sedangkan bahasaya sederhana, pendek, dengan penuh irama, dan isinya tentang satu pengalaman tertentu yang dipadatkan, yaitu  diceritakan dengan mengesampingkan unsur setiap peristiwanya.[6]

Penulis mengkategorikan lagu anak-anak masuk dalam jenis puisi anak; (1)dilihat dari bentuk dan bahasanya, lagu anak-anak ini sangat melodis dan  berirama, seperti halnya puisi, (2) isinya berupa pengalaman dan nasihat-nasihat yang berkaitan dengan kehidupan anak-anak sekarang. [7]




2.2 Kajian Strukturalisme Puisi Anak


ACEH
karya : Ridwan Amran

Biru
lautmu, birunya hatiku
Di sana purnama terluka
Tentang keadilan yang terkubur
Dan cinta kasih yang terbujur

Berlumur darah
Kenangan apa yang akan kusematkan padamu
Seuntai puisi yang tak bergema ?
Pada mayat-mayat tanpa kubur

Atau pengungsi yang terusir dari rumah
Atau harta benda yang porak poranda
Dalam maraknya resah di mulut senjata
Dalam maraknya fitnah di pelatuk senjata

Hukum apa yang ku undangkan padamu
Untuk menawarkan panas api
Untuk menyejukkan bumi-bumi
Untuk mengibarkan panji-panji damai



Agar nelayan berlayar di lautmu
Agar petani mencangkul di ladangmu
Agar pengungsi kembali ke rumah sendiri
Menyirami kasih sayang yang abadi

Hukum apa yang ku undangkan kepadamu
Andai bahasa telah mengering dalam kitab
Andai hati telah membeku tanpa peduli
Kemiskinan, kemejaratan, dan kesengsaraan yang memerihkan jiwa rakyat

Aceh, biru lautmu biru hatiku
Di sana purnama terluka


DANAU
Karya : Yogasatya

Danau terang dengan pemandangan indah
Danau tempat tinggal berbagai macam jenis ikan
Tempat orang menikmati pemandangan alam
Tempat orang rekreasi dan memancing


Situ gintung..
Danau yang indah dan terang
Tiba-tiba bergemuruh dan menumpahkan air deras maha dahsyat
Menyapu seluruh benda yang di laluinya

Rumah, kendaraan dan harta benda hancur lebur
Banyak orang yang tak terselamatkan dan meninggal
Astagfirullah…


2.2.1 Unsur Fisik

Ø   Diksi
Diksi merupakan pilihan dan susunan kata dalam karya sastra. Diksi berbeda-beda tergantung pada tujuan akhir yang hendak dicapai seorang penulis. Jenis diksi juga ditentukan oleh sifat bentuk karya, tema dan gaya yang berlaku pada suatu massa. [8]
Mengenai diksi, pengarang menggunakan kata yang berlainan untuk menyebutkan makna yang sama. Diksi yang digunakan dalam puisi Aceh  menggunakan makna denotatif pada bait :
Agar nelayan berlayar di lautmu
Agar petani mencangkul di ladangmu
Agar pengungsi kembali ke rumah sendiri
Menyirami kasih sayang yang abadi
Dalam bait ini menjelaskan bahwa memang laut itu tempat nelayan berlayar dan ladang tempat mencangkul untuk petani tapi pada saat bencana datang patani atau nelayan tidak dapat lagi mencari mata pencaharian mereka di laut atau ladang, bahkan masyarakatpun banyak yang kehilangan rumah juga keluarga mereka. Sedangkan pada puisi Danau menggunakan makna denotatif pada bait pertama sampai akhir.

Ø   Pengimajian
Pengimajian artinya kata atau susunan kata yang dapat menimbulkan khayalan atau imajinasi. Ada beberapa pengimajian dalam kedua puisi tersebut.

ACEH
karya : Ridwan Amran

Biru
laut-Mu birunya hatiku               è penglihatan, perasa
Di sana purnama terluka                    
è penglihatan
Tentang keadilan yang terkubur        
è perasa
Dan cinta kasih yang terbujur            
è perasa

Berlumur darah                                                          
è penglihatan
Kenangan apa yang akan kusematkan padamu         
è penglihatan
Seuntai puisi yang tak bergema ?                               
è pendengaran
Pada mayat-mayat tanpa kubur                                 
è penglihatan


Atau pengungsi yang terusir dari rumah        
è penglihatan
Atau harta benda yang porak poranda           
è penglihatan
Dalam maraknya resah di mulut senjata        
è penglihatan
Dalam maraknya fitnah di pelatuk senjata     
è penglihatan

Hukum apa yang ku undangkan padamu      
è penglihatan, perasa
Untuk menawarkan panas api                        
è peraba
Untuk menyejukkan bumi-bumi                    
è perasa
Untuk mengibarkan panji-panji damai           
è penglihatan

Agar nelayan berlayar di lautmu                    
è penglihatan
Agar petani mencangkul di ladangmu           
è penglihatan
Agar pengungsi kembali ke rumah sendiri     
è penglihatan
Menyirami kasih sayang yang abadi              
è perasa

Hukum apa yang ku undangkan kepadamu                è penglihatan, perasa
Andai bahasa telah mengering dalam kitab                è pendengaran
Andai hati telah membeku tanpa peduli                     è perasa
Kemiskinan, kemejaratan, dan kesengsaraan yang memerihkan jiwa rakyat  è penglihatan

Aceh, biru lautmu biru hatiku             è penglihatan
Di sana purnama terluka                    
è perasa

Sedangkan dalam puisi Danau seluruh baitnya menggunakan imaji penglihatan kecuali baris terakhir Astagfirullah itu perasa.

Ø   Kata Konkret

         Puisi dituliskan dengan kata-kata yang konkret untuk membangkitkan imajinasi pembaca, kata-kata harus diperjelas. Kata konkret dalam puisi Aceh terdapat pada kata-kata:

      - Berlumur darah
- Agar nelayan berlayar di lautmu            
- Agar petani mencangkul di ladangmu
- Kemiskinan, kemejaratan, dan kesengsaraan yang memerihkan jiwa rakyat

  Dengan rangkaian kata-kata diatas tentu saja penulis seolah-olah dapat memberikan imajinasi visual kepada para pembaca. Sedangkan dalam puisi Danau terdapat pda kata-kata :

-          Danau tempat tinggal berbagai macam jenis ikan
-          Tempat orang rekreasi dan memancing
Yang menandakan bahwa memang danau itu banyak dihuni berbagai macam jenis ikan dan juga tempat orang memancing, sama seperti laut. Kemudian mereka menumpahkan seluruh airnya ke permukaan bumi.

Ø   Bahasa Figuratif
Bahasa figuratif juga disebut majas. Majas adalah cara melukiskan sesuatu dengan jalan menyamakannya dengan sesuatu yang lain. Majas yang digunakan dalam puisi Aceh dan Danau adalah majas pararelisme yang artinya adanya kata-kata yang diulang dalam puisi tersebut. Pada kata “dalam maraknya” pada puisi Aceh. Dan kata “tempat orang” pada puisi Danau.


Ø   Rima

Rima dapat menjadikan puisi lebih indah dan menjadikan makna lebih kuat. Rima adalah pengulangan bunyi yang berselang pada puisi.

Rima pada puisi Aceh menggunakan rima (a-b-b-b) pada bait kedua dan ketiga, (a-a-b-b) pada bait kelima, selebihnya tidak beraturan. Pada puisi Danau menggunakan rima tidak beraturan (a-b-c-d).

Ø   Tipografi

Tifografi merupakan bentuk visual puisi dan merupakan pembeda penting antara puisi dengan prosa dan drama. Larik-larik puisi tidak berbentuk paragraf namun berbentuk bait.

Tipografi pada puisi Aceh bait kesatu sampai keenam terdapat 1 bait 4 baris, menggunakan lebih dari tiga kata. Bait terakhir hanya ada 2 baris, baris pertama terdapat 5 kata dan baris kedua 4 kata. Sedangkan puisi Danau menggunakan tipografi I bait 4 baris, kecuali bait terakhir hanya ada 3 baris dan keseluruhan bait menggunakan lebih dari 4 kata.


2.2.2 Unsur Batin
Ø   Tema
Tema adalah pokok pikiran yang diungkapkan penyair dalam puisi. Tema berfungsi sebagai landasan utama dalam berpuisi. Tema itulah yang menjadi kerangka sebuah puisi. Kedua puisi itu bertemakan tentang bencana alam yang terjadi di lautan dan danau.


Ø   Nada dan Suasana

Nada berhubungan dengan sikap penyair terhadap teks puisi yang ditulisnya. Kesan menggurui, menasehati, mengejek, menyindir, atau menceritakan Sesuatu kepada pembaca, diolah menggunakan kata-kata dan ditambahkan emosi. Sedangkan suasana menghubungkan puisi dengan pembaca. Nada dan suasana kedua puisi tersebut adalah sedih dan haru. Pada puisi Aceh sperti: ‘berlumur darah”, “atau pengungsi yang terusir dari rumah”, “atau harta benda yang porak poranda”. Sedangkan pada puisi Danau terdapat pada kata “tiba-tiba bergemuruh dan menumpahkan air maha dahsyat”, dan “menyapu seluruh benda yang dilaluinya”.

Ø   Amanat
Amanat adalah maksud yang hendak disampaikan atau himbauan, tujuan yang hendak disampaikan penyair kepada pembaca.
Amanat yang ingin disampaikan pengarang adalah supaya kita para pembaca selalu ingat kepada Tuhan dalam kedaan apapun karena sesungguhnya Tuhan itu makhluk yang benar-benar ada keberadaannya. Serta kita harus bersabar dalam menghadapi cobaan-Nya.






BAB III
PENUTUP

3.1. Simpulan
Simpulan dari makalah ini adalah bahwa puisi yang bertemakan bencana alam ini menggunakan makna denotatif yaitu makna sebenarnya. Puisi ini kebanyakan menggunakan imajinasi penglihatan dan perasa, majas yang digunakan adalah majas pararelisme atau pengulangan kata, rima yang digunakan yaitu rima tidak beraturan. Tetapi, ada pula yang menggunakan rima (a-b-b-b) pada puisi aceh bait ketiga dan keempat. Suasana dalam puisi ini adalah suasana menyedihkan dan mengharukan. Adapun amanat yang dapat kita ambil dari kedua puisi ini adalah kita senantiasa harus selalu bersabar dalam menghadapi cobaan dari-Nya.

3.2. Saran
Semoga dengan dibuatnya makalah ini kita dapat mengetahui bagaimana kajian strukturalisme dalam puisi anak itu di analisis. Adapun saran kami sebagai penulis adalah agar para pembaca dapat mengkaji lebih jauh mengenai puisi bukan hanya dari unsur intrinsiknya saja, melainkan unsur ekstrinsiknya juga.





DAFTAR PUSTAKA


Budianta, Melani dkk. Membaca Sastra. Magelang: Indonesia Tera. 2003.


K.S, Yudiono. Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: PT. Grasindo.
2007.

Kurniawan, Heru. Sastra Anak. Yogyakarta: Graha Ilmu. 2009.


Siswanto, Wahyudi. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: PT. Grasindo. 2007.

Teeuw, A. Sastera Dan Ilmu Sastera. Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya. 2003.

Waluyo, J. Herman. Apresiasi Puisi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
2002.



[1] Yudiono K.S. Pengantar Sejarah Sastra Indonesia, (Jakarta: PT Grasindo, 2007), h.11
[2] A. Teeuw, Sastra Indonesia Modern II, (Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya, 1989) h.99
[3] Melani Budianta, dkk. Membaca Sastra, (Magelang: Indonesia Tera, 2003), h. 19
[4] Herman J. Waluyo. Apresiasi Puisi, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Uama, 2002), h.1
[5] Heru Kurniawan, Sastra Anak, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009), h. 94
[6] Ibid, h. 28
[7] Ibid, h. 29
[8] Wahyudi Siswanto, Pengantar Teori Sastra, (Jakarta: PT.Grasindo, 2007) h.78

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking