Wys tans plasings met die etiket Tugas Sastra. Wys alle plasings
Wys tans plasings met die etiket Tugas Sastra. Wys alle plasings

07 Jun. 2013

modifikasi dongeng "Tampe Ruma Sani"


Tampe Ruma Sani
Oleh   : Novia Indriyani


Cerita ini berasal dari Dompu, salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Barat.

Alkisah pada zaman dulu, tinggallah seorang anak perempuan bernama Tampe Ruma Sani. Semua orang di kampungnya mengenal dia, sebab setiap hari ia menjajakan ikan hasil tangkapan ayahnya. Ibunya sudah meninggal. Di rumahnya ia tinggal bersama ayah dan adik laki-lakinya yang masih kecil. Ia memasak nasi untuk ayah dan adiknya. Kasihan Tampe Ruma Sani yang masih kecil itu harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang seharusnya dikerjakan oleh orang dewasa.

Pada suatu hari, seorang janda menyapa Tampe Rurna Sani, “Sudah habis ikanmu Nak? Tiap hari saya lihat ikanmu cepat habis, apa rahasianya?”

“Saya menjual lebih murah dari yang lain, agar cepat habis, karena saya harus segera pulang menanak nasi untuk ayah dan adik saya. Juga pekerjaan rumah tangga yang lain harus saya kerjakan”, jawab Tampe Rurna Sani sambil berjalan cepat.

“Siapa nama adikmu?”

Pada suatu hari, ayahnya baru pulang menangkap ikan. Sang ibu tiri segera menyiapkan makanan yang enak-enak untuknya. Sedang untuk anak ttrinya disediakan nasi menir (nasi dari beras yang hancur kecil-kecil). Melihat hal itu, Tampe Ruma Sani memberanikan diri lapor kepada ayahnya, “Ayah dan ibu makan nasi yang bagus dan ikannya yang enak-enak, sedang saya dan adik nasinya kecil-kecil dan tidak ada ikannya”. Mendengar hal itu ayahnya bertanya, “Mengapa makanan anak-anak berbeda dengan makanan kita Bu?”

“Oo tidak Pak, sebenarnya sama saja, lihatlah sisa makanan yang ada di kepala Mahama Laga Ligo,” jawab istrinya.

Sebenarnya nasi yang ada di kepala Mahama Laga Ligo sengaja ditaruh oleh ibu tirinya menjelang ayahnya datang. Hal yang demikian telah dilakukan berkali-kali. Ibunya sangat marah kepada Tampe Ruma Sani yang berani melaporkan kepada ayahnya. Setelah suaminya pergi, sang ibu tiri menghajar Tarnpe Ruma Sani sampai babak belur. Tampe Ruma Sani menangis sejadi-jadinya. Melihat kakaknya dihajar, Mahama Laga Ligo pun ikut menangis.

“Kalau kalian berani melapor kepada ayahmu akan kubunuh kalian!” ancamnya.

Perlakuan kasar telah biasa diterima oleh kedua anak itu. Mereka tidak berani melaporkan kejadian itu kepada ayahnya, karena takut ancaman ibu tirinya.

Kini kedua anak itu sudah besar dan menginjak dewasa. Kakak beradik itu bermaksud pergi meninggalkan orang tuanya untuk mencari nafkah sendiri, karena tidak tahan lagi menerima siksaan ibu tirinya. Maksud itu pun disampaikan kepada ayahnya, “Ayah, kami sekarang sudah besar, ingin pergi mencari pengalaman. Oleh karena itu, izinkanlah saya dan Mahama Laga Ligo pergi”. 

“Mengapa engkau mau meninggalkan rumah ini? Tetaplah di sini. Rumah ini nanti akan sepi.” kafa ayahnya. Ibu tirinya segera menyahut, “Benar kata Tampe Ruma Sani. Dia kini sudah besar. Bersama adiknya tentu ingin mandiri. Maka sebaiknya ayah mengizinkan mereka pergi.” Ibu tirinya memang sudah tidak senang dengan anak-anak tirinya yang dirasa sangat mengganggu.

Akhirnya, ayahnya pun dengan berat mengizinkan, berkat desakan istrinya yang terus-menerus.
Pagi hari sesudah sholat subuh, kedua anak itu meninggalkan rumahnya. Ibu tirinya memberi bekal nasi dalam bungkusan. Ayahnya mengantarkan sampai ke batas desa.

Alkisah, kedua anak itu berjalan menyusuri hutan dan sungai. Sesekali mereka membicarakan ibu tirinya yang kejam. Sesekali juga membicarakan ayahnya yang kena pengaruh ibu tirinya. Setelah seharian berjalan, Mahama Laga Ligo merasa capai.

“Kak, saya capai dan lapar. Istirahat dulu ya Kak”, katanya dengan nada menghimbau.
“Bolehlah. Kita cari dulu tempat yang teduh, lalu kita makan bekal yang diberikan ibu tadi,” kata kakaknya. Ketika mau duduk dekat adiknya yang mulai membuka bekalnya, tercium bau kotoran.
“Pindah dulu, di sekitar sini ada kotoran, kata Tampe Ruma Sani, sambil mengamati di mana kotoran itu berada. Namun, di sekitar tempat itu bersih. Lalu ia duduk lagi dan meneruskan membuka bekal yang dipegang adiknya. Ketika bekal itu dibuka bau itu tercium lebih keras. Akhinya, tahulah sumber bau itu. Bau itu temyata berasal dari bekal yang dibawanya. Rupanya ibu tirinya sangat jahat, sehingga sampai hati memberi bekal yang dicampuri kotoran manusia. Lalu, bungkusan itu pun dibuang, dengan perasaan marah dan sedih.

Dengan mengikat perutnya kencang-kencang, kedua kakak beradik itu pun melanjutkan perjalanan. Setelah beberapa lama herjalan, dilihatnya sebuah rumah di tengah hutan. Kedua anak itu merasa senang. Segeralah keduanya menaiki tangga dan mengetuk pintu. Namun, setelah beberapa saat tidak terdengar jawaban. Diketuknya sekali lagi, tetap tiada jawaban. Lalu, keduanya mendorong pintu rumah itu sedikit demi sedikit. Ternyata pintu itu tidak dikunci. Dengan perlahan-lahan, ia memeriksa seluruh penjuru rumah, temyata rumah itu tidak ada penghuninya. Di sebuah sudut rumah itu ada tiga buah karung. Setelah diperiksa, ternyata karung itu berisi merica, cengkih, dan pala. Di atas meja tersedia makanan. Di sekitar rumah ditumbuhi rumput yang tinggi, yang tampak tidak pernah dijamah manusia maupun binatang.

“Mari kita duduk di dalam rumah menunggu pemiliknya” kata Tampe Ruma Sani kepada adiknya.
Mereka duduk-duduk. Tak berapa lama, karena kecapaian, mereka tertidur. Pada saat terbangun hari telah pagi. Penghuni rumah itu belum juga muncul. Makanan di atas meja masih tetap utuh. Mereka heran, makanan itu masih hangat. Karena kelaparan, makanan itu pun mereka makan sampai habis.
Tiga hari sudah mereka berada di rumah itu. Setiap mereka bangun pagi, makanan hangat telah tersedia. Mereka semakin terheran-heran, namun tidak mampu berpikir dari mana semuanya itu.
Untuk menjaga kemungkinan makanan tidak tersedia lagi, mereka bermaksud menjual rempah-rempah dalam karung itu. Pada hari keempat, Maharna Laga Ligo berkata kepada kakak perempuannya, “Kak, biarlah saya yang menjual rempah-rempah ini sedikit demi sedikit ke pasar. Sementara saya pergi, kakak di dalam rumah saja. Kalau ada orang datang, jangan sekali-sekali kakak membukakan pintu”.

“Baiklah, pergilah, tetapi jangan lama-lama”, jawab kakaknya.
Tersebutlah hulubalang raja yang sedang berburu di hutan. Setelah beberapa lama, mereka sangat heran di tengah hutan itu ada sebuah rumah. Selama ini, di daerah itu tidak pernah ada seorang pun berani tinggal. Maka salah seorang hulubalang itu menaiki tangga rumah itu dan mengetuk pintunya. Tampe Ruma Sani tidak berani menjawab, apalagi membuka pintu. Ia bersembunyi di bawah meja dengan sangat ketakutan. Dalam hati berdoa semoga adiknya cepat datang.

-----
Namun ternyata sang adik tak kunjung datang. Kemudian, dengan terpaksa Hulubalang itu masuk ke dalam rumah dengan cara mendobrak pintu itu. Tampe Ruma sani pun ketakutan. Akan tetapi Hulubalang itu berkata “tidak usah takut, saya ini hanyalah seorang hulubalang di kerajaan negeri ini”, Tampe Ruma Sani pun sedikit lega mendengarnya.

Kemudian Hulubalang menceritakan tentang rumah yang di tempati oleh Tampe Ruma Sani saat ini. Hulubalang berkata “ini adalah rumah gubuk tempat raja menyendiri bila sedang merindukan anaknya, tempat ini juga dipakai sebagai tempat penyimpanan rempah-rempah yang didapat dari kebun kerajaan, dan makanan itu yang selalu ada di meja adalah buatan istri pertama raja yang telah lama meninggal dunia”.   

Setelah lumayan lama Hulubalang bercerita tentang tempat itu, kemudian terdengar suara tangan yang mengetok pintu took,,took,,took,, ternyata itu Mahama Laga Ligo yang baru pulang dari pasar. Mahama Laga Ligo pun kaget dan bertanya kepada kakaknya “siapa dia ka ?’’ lalu kakanya menjawab “dia adalah seorang Hubulalang dari kerajaan yang ada di negeri ini”. Mahama Laga Ligo pun hanya terdiam dan tersenyum kecil saja mendengar hal itu.
Lalu Hulubalang pun mengajak mereka untuk tinggal di kerajaan. Awalnya Mahama Laga Ligo menolak, namun setelah kakaknya memberi penjelasan, akhirnya Mahama Laga Ligo pun mau mengikutinya. Mahama Laga Ligo itu sangat menyayangi kakaknya, demikian pula sebaliknya. Namun sepertinya Mahama Laga Ligo merasakan rasa sayang yang berbeda yakni melebihi seorang kakak.

Dan tanpa sepengetahuan kakaknya, ternyata Mahama Laga Ligo itu jatuh cinta kepada kakaknya sendiri. Lalu, mereka bertiga bergegas meninggalkan rumah itu dan pergi menuju kerajaan. Sepanjang perjalanan entah mengapa sepertinya Mahama Laga Ligo memiliki ikatan batin dengan suasana jalan tersebut. Namun, Mahama Laga Ligo hanya terdiam saja dan melupakan perasaan tentang jalan dan suasana itu.

Sesampainya di kerajaan Hulubalang mempertemukan mereka dengan Raja Galileo. Raja yang beristrikan dua, namun istri pertamanya meninggal dunia pada saat melahirkan anak pertamanya. Saat Raja Galileo bertemu dengan Mahama Laga Ligo, Raja melihat ada tanda lahir di pelipis mata Mahama Laga Ligo yang mengingatkannya pada anak pertamanya yang di buang di tengah hutan oleh istri keduanya.

Kemudian raja pun langsung menghampiri dan memeluk Mahama Laga Ligo sambil berkata “anakku yaa kau adalah anakku” Mahama Laga Ligo dan Tampe Ruma Sani pun hanya tercengang mendengar hal itu. Kemudian raja Galileo menceritakan peristiwa yang selama ini tidak diketahui oleh banyak orang, bahwa Mahama Laga Ligo dibuang oleh istri keduanya ke hutan itu karena istrinya berpikir bahwa seluruh harta kerajaan akan jatuh ke tangan Mahama Laga Ligo.

Mahama Laga Ligo tidak langsung menerima kenyataan itu, begitu pun dengan Tampe Ruma Sani yang ternyata bukan kakak kandungnya. Pantas saja, Mahama Laga Ligo memiliki persaan yang berbeda terhadap Tampe Ruma Sani. Hari demi hari dan minggu demi minggu mereka lalui bersama di kerajaan. Sampai pada akhirnya istri kedua raja pun meminta maaf kepada Mahama Laga Ligo. Lalu, Tampe Ruma Sani pun tiba-tiba merindukan ayahnya dan meminta untuk pulang ke rumah. Raja pun langsung menyambut permintaan Tampe Ruma Sani, namun dengan satu syarat, raja harus ikut bersamanya pulang ke rumah.

Tampe Ruma Sani pun menyetujui syarat yang diberikan oleh raja. Sesampainya di rumah, ayah pun langsung terheran-heran melihat kedatangan mereka. Dan pada akhirnya sama dengan raja ayah pun menceritakan bahwa Mahama Laga Ligo itu bukan anak kandungnya, dia ditemukan di tengah hutan pada saat ayah hendak pergi ke pasar untuk menjual ikan. Kemudian pada hari itu Mahama Laga Ligo pun mengutarakan semua isi hatinya bahwa ia mencintai Tampe Ruma Sani dan ingin menjadikannya seorang istri. Karena memiliki perasaan yang sama akhirnya Tampe Ruma Sani pun menerima pinangan Mahama Laga Ligo. Dan ibu tiri Tampe Ruma Sani pun kini sudah berubah menjadi baik semenjak Mahama Laga Ligo meninggalkan rumah karena ia menyadari betapa sepinya bila tidak ada mereka berdua, dan dia pun meminta maaf kepada Mahama Laga Ligo juga Tampe Ruma Sani. Pada akhirnya kedua keluarga tersebut pun hidup bahagia di istana kerajaan.

Cerita asli Tampe Ruma Sani bisa dilihat di http://dongeng.org/cerita-rakyat/tampe-ruma-sani.html



12 Mei 2013

deskripsi dalam waktu yang lama


Hari Ini di SMS

Pagi ini sekitar pukul 06.15, aku lari pagi bersama ketiga temanku. Kami lari menuju mall besar yang ada di dekat daerah rumah kami. Jaraknya yang tidak begitu jauh sehingga kami memutuskan untuk lari pagi mengelilingi mall itu saja. Namanya Summarecon Mall Serpong orang biasa menyebutnya hanya dengan kata SMS. Banyak orang berkunjung atau lari pagi kesini, parkiran mall ini juga biasa dipakai untuk tempat shalat idul fitri atau pun idul adha setiap tahunnya.
Suasana masih sangat sepi sekali, hanya ada aku dan ketiga temanku dan terlihat dua orang bapak-bapak yang sedang senam kecil di parkiran. Pagi ini belum ada mobil ataupun motor yang mengisi halaman parkir mall ini. Aku hanya melihat toko makanan yang berada di luar mall dengan pintu besar yang di atasnya bertuliskan “Tutup”. Serta kursi-kursi yang masih kosong tanpa ada seorang pun yang mendudukinya  dan meja-meja  yang di atasnya haya terdapat menu makanan saja. Lampu-lampu pun tak begitu banyak yang menyala. Itulah yang kulihat di bagian pintu utara mall ini.
Kemudian aku dan temanku berlari menuju belakang mall. Mall ini memang sangat besar dan luas sehingga parkirannya pun berada dimana-mana. Suasananya berbeda sekali sekali dengan keadaan di depan pintu utara tadi. Di sini sudah banyak gerobak-gerobak berjejeran di pinggir trotoar di seberang bunderan di belakang mall. Dari mulai tukang bubur ayam, ketupat sayur, ketoprak dan lain-lain. Apa lagi jika sore hari masih banyak lagi pedagang di sini, karena karyawan yang bekerja di mall ini mereka suka membeli makanan di sini. Ku lihat jam tanganku ternyata sudah pukul tujuh. Akhirnya aku dan ketiga temanku memutuskan untuk istirahat dan membeli bubur ayam yang berada di tengah-tengah antara tukang ketupat sayur dan ketoprak.
Kami makan sambil berbincang-bincang hingga tak terasa matahari sudah benar-benar menunjukkan sinarnya. Ternyata sudah pukul setengah delapan. Pembeli lain pun mulai brdatangan untuk membeli sarapan di tempat ini. Aku dan ketiga temanku membayar bubur lalu berjalan kembali untuk pulang. Kebetulan ini hari minggu, pada saat makan bubur tadi kami berbincang-bincang dan berniat akan pergi belanja bersama ke mall tersebut sore nanti. Kami berencana akan membeli baju di salah satu Department Store yang ada di mall itu. Saat perjalanan pulang kami pun kembali melewati halaman pintu utara mall, kali ini aku melihat ada seorang tukang sapu yang sedang membersihkan jalanan menuju pintu mall. Dan pintu mall pun sudah agak terbuka sedikit. Lalu kulihat kearah parkiran mobil ternyata sedang ada senam bersama di sana dan kedua bapak yang kulihat tadi ikut serta dalam senam tersebut.
Alunan musik Bruno Mars yang berjudul move on membangunkan tidurku. Hampir saja aku melupakan janji yang telah aku buat pagi tadi untuk pergi bersama ketiga temanku sore ini. Setelah semua siap, aku dan temanku pun bergegas pergi, kali ini kami tidak berlari atau pun berjalan kaki. Kami menaiki angkot berwarna biru dan kuning untuk sampai ke mall itu dengan ongkos hanya Rp. 2000-, saja. Kami turun di pintu utara yang kami lewati pagi tadi. Pemandangan pun sudah sangat berbeda, banyak orang yang berlalu lalang kesana dan kemari ada yang hendak pulang ada juga yang baru datang seperti kami. Sebelum menuju pintu mall kami melewati parkiran motor yang sangat luas dan sudah berjejer dengan rapih motor-motor dengan berbagai merk. Namun motor-motor besar di parkir secara terpisah yaitu di depan halaman mall. Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di sini.
Sebelum masuk mall, di depan pintu sudah berdiri seorang satpam yang siap memeriksa tas-tas para pengunjung mall. Setelah tas diperiksa kami langsung naik ke lantai dua dengan menggunakan ekskalator menuju Department Store namanya Star kulihat nama itu terpampang jelas dengan background berwarna merah dan tulisannya berwarna putih dengan lambang bintang diakhir huruf R nya. Kami masuk disambut oleh perempuan cantik, tinggi yang menggunakan baju seragam berwarna merah dan rok mini berwarna hitam senada dengan warna stocking dan pantopelnya. SPG ini semakin cantik karena rambutnya yang disanggul dan make up yang tidak berlebihan, serta ucapan selamat datangnya yang sangat sopan dan lembut juga senyumannya yang manis.
Kami pun mulai memilih-milih baju yang kami suka. Aku memisahkan diri dengan teman-temanku. Aku melihat-lihat baju di stand pria, tidak sengaja aku bertemu dengan pria tinggi , putih memakai seragam sama seperti SPG yang ada di depan tadi. Rambutnya masih keriting seperti dulu, dia adalah temanku. Sudah setahun kami tidak bertemu. Namun karena dia sedang menjaga stand akhirnya kami pun hanya bertukaran pin BB saja untuk melanjutkan komunikasi. Dan aku pun melanjutkan memilih baju yang aku suka di stand yang lain.
Aku dan ketiga temanku membuat perjanjian pukul tujuh nanti kami bertemu di bagian stand sepatu. Namun karena aku yang lebih dulu selesai maka sebelum pukul tujuh aku sudah ada di tempat yang telah kami tentukan. Tak lama ada seorang pria menghampiriku, ya dia adalah temanku yang tadi. Dia sedang istirahat, dan sambil menunggu ketiga temanku aku memutuskan untuk keluar terlebih dahulu dari tempat ini dan menuju tempat makan yang ada di lantai tiga bersama si keriting ini. Aku langsung menghubungi salah satu temanku agar menyusul ke tempat makan. Perbincangan ku pun sudah agak banyak bersama pria ini. Namun sudah pukul delapan ketiga temanku tak kunjung datang. Tidak lama kemudian mereka datang dengan membawa jinjingan plastik di tangan mereka yang berisi baju dan sepatu. Pada saat mereka datang teman priaku pun berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya. Namun aku masih tetap disini karena harus menemani mereka makan.
Tempat makan ini sangat penuh dengan pengunjung dari mulai anak-anak, dewasa, ibu-ibu, bapak-bapak bahkan kakek dan nenek pun ada. Saat mereka makan aku hanya memesan jus alpukat kesukaanku. Sambil terus melihat jam ternyata sudah pukul sembilan dan angkot pun sudah tidak beroperasi sejak pukul delapan tadi. Selesai makan sekitar pukul setengah sepuluh kami bergegas untuk pulang menuruni ekskalator yang berada tak jauh dari tempat makan kami. Aku melihat tempat makan di luar mall semakin ramai dengan pembeli. Tentu saja ramai tempat ini biasa digunakan oleh para pengunjung untuk sekedar ngopi bahkan nonton bersama bila ada pertandingan bola. Padahal pagi tadi aku hanya melihat kursi kosong dan meja kosong saja, tapi sekarang meja itu sudah di penuhi berbagai jenis makanan dan kursi-kursi sudah terisi oleh penikmat makanan itu. Karena sudah sangat malam dan angkot pun sudah tidak ada, akhirnya kami pun memutuskan untuk naik ojeg yang berada di seberang mall di dekat lampu merah.


25 Apr. 2013

Deskripsi spasial waktu


Air Bersih

Alunan musik Bruno Mars yang berjudul move on berdering pukul 05.15 pagi. Aku terbangun karenanya, dengan membalik-balikan badan sambil mencari smartphone-ku untuk mematikan lagunya. Aku mulai beranjak dari tempat tidurku, kemudian mengambil handukku yang berwarna orange yang digantung dibalik pintu. Dengan keadaan mata masih mengantuk aku menuju kamar mandi, kulihat seorang wanita tangguh sedang memeras baju ditemani dengan busah-busah yang keluar dari perasan baju itu. Dia adalah ibuku, di sekelilingnya terdapat 1 bak kecil berwarna hitam yang berisi air perasan baju, 5 ember hitam dan 1 tong besar yang berisi air bersih, serta 1 ember bekas cat berukuran besar yang berisi baju-baju kotor.

Kemudian aku masuk ke dalam kamar mandi lalu menaruh handukku di kastok yang di tempel di dinding kamar mandi. Kulihat bak berukuran besar , 1 ember besar dan 3 ember kecil yang kosong tidak terisi air. Di sini juga terdapat selang air yang sangat panjang yang sudah terpasang sejak tiga bulan yang lalu. Meihat bak dan ember itu kosong aku pun keluar dari kamar mandi dan menuju rumah bibi untuk menghidupkan air. Dan selang panjang itu aku sambungkan pada keran yang ada di kamar mandi rumah bibi.

Aku pun kembali ke kamar mandi rumahku, mulailah aku membersihkan bak dan ember-ember itu untuk di isi air bersih. Entah sampai kapan aku setiap pagi harus menghidupkan dan mematikan air di rumah bibi. Dan entah sampai kapan pula air di rumahku kotor dan bau. Sudah empat bulan lamanya ayah, ibu, adik dan aku menantikan air bersih. Mungkin ayah sudah bosan bila harus membayar tukang untuk mengebor air, karena sebelumnya pun ayah sudah pernah menyuruh tukang untuk mengebor, bahkan sudah dua kali. Tapi tetap saja air yang keluar kotor dan bau.

Selesai mandi kira-kira pukul pukul 05.40 aku shalat dan mulai bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Terkadang aku mandi dengan terburu-buru, karena teringat aku mandi menggunakan air orang lain. Aku merasa merepotkan karena pasti keluarga bibi juga akan memakai airnya. Bila dibuka dua keran pasti air yang keluar akan kecil. Untuk itu sebelum pukul 06.30 aku dan adik serta ayah harus sudah selesai mandi dan bak atau ember-ember kosong itu pun harus sudah terisi air, untuk persediaan ibu mandi sebelum ia berangkat kerja pukul delapan dan untuk persediaan sampai siang hari nanti. Dalam sehari kami hanya menghidupkan air dua kali yaitu pagi dan sore hari. Sebelum pukul 18.30 aku dan adik harus sudah mandi agar bisa mengisi kembali air yang telah kami pakai agar dapat digunakan untuk ayah dan ibu mandi sepulang kerja, serta digunakan untuk memasak dan mencuci besok pagi.

12 Apr. 2013

puisi untuk baduy


BADUY

suku dalam yang masih mengikuti kaidah leluhur
peradaban datang tetap dengan ajaran leluhur
berburu dihutan membuat kerajinan tangan
aktifitas sehari-hari
hutan belantara, pemandangan yang indah
butuh keringat untuk mencapai baduy dalam
yang benar-benar asri tanpa ada kemodrenan
pohon-pohon hijau, kicau burung menghiasi tempat ini
tempat yang membuatku tenang
tempat dimana ciri suatu bangsa sangat kental
suku-suku akan tetap ada
mereka tak akan pernah punah


11 Apr. 2013

deskripsi ekspositoris


Cerita  628

September, 2011 mulailah perkuliahan hari pertama di kampus ini. Aku mendapat kelas di ruang 628. Ruang kelas ini berada di lantai 6, dekat dengan tangga dan lift. Menurutku ruang ini cukup strategis, karena toilet tak jauh dari ruang kelas ini dan mushola pun dekat dengan kelas ini. Hari pertama kulewati dengan menaiki tangga untuk sampai di ruang kelas 628. Keramaian di lift yang membuatku memutuskan untuk menaiki tangga. Lelah yang kudapat karena banyaknya anak tangga yang kulewati.

Namun, lelahku sepertinya akan terbayarkan karena aku akan bertemu dengan teman-teman baru disini. Sampailah aku di depan pintu 628, pintu yang terbuat dari kaca berwarna hitam dan pegangan pintunya seperti terbuat dari alumunium layaknya pintu-pintu mini market. Dengan bertuliskan angka 628 di atas kertas berwarna putih yang ditempelkan di pintu. Kemudian, aku membuka pintu itu seraya mengucapkan salam. Saat ku membuka pintu mataku langsung tertuju pada kursi-kursi anak kuliahan itu yang berwarna hitam dan mejanya berwarna putih. Lebih dari 20 kursi aku lihat di kelas ini, kemudian aku berjalan masuk ke dalam dan memilih salah satu kursi untukku duduki. Aku duduk di kursi barisan kedua dari depan, suasananya masih sepi karena belum ada mahasiswa yang datang selain aku.

Kini aku seperti berada di tengah-tengah kelas ini, sehingga aku dapat mengalihkan pandanganku kemana saja. Ruang kelas ini tidak begitu luas, tetapi cukup untuk menaruh sekitar 50 kursi. Aku merasa dingin di kelas ini, lalu aku menoleh ke sebelah kiri dan ternyata AC-nya hidup entah berapa derajat. Lalu, ku alihkan pandanganku ke sebelah kanan, ternyata ada satu buah kipas angin juga disini. Ruangan ini memiliki dua white board yang berada di depanku, warna cat kelas ini hampir kontras dengan warna baju yang ku pakai yaitu cream. Terdapat pula meja panjang berwarna coklat yang aku rasa meja itu disiapkan untuk dosen. Aku mulai mengalihkan pandanganku ke langit-langit kelas, penerangan kelas ini diterangi oleh dua lampu neon yang panjang dan dua lampu neon biasa. Aku merasa ruangan ini begitu pengap, setelah ku lihat aku hanya menemukan dua ventilasi udara yang terbuat dari kaca, modelnya seperti pintu kelas hanya saja ini berukuran lebih kecil dan berada di tengah-tengah di atas dinding, tidak ada jendela disini.

Mahasiswa lain pun mulai berdatangan dengan berbagai macam gaya mereka berpakaian dan cara mereka bersosialisasi. Kali ini aku duduk di sekeliling mahasiswa yang lain, hampir semua wanita dalam kelas ini memakai hijab sepertiku. Ruang kelas ini memiliki 40 mahasiswa terdiri dari 21 perempuan dan 19 laki-laki, aku tahu setelah aku menghitungnya. Tak lama dosen perempuan cantik pun datang, ia memakai kemeja berwarna putih yang di masukkannya ke dalam rok yang berwarna abu-abu, penampilannya makin terlihat cantik dengan menggunakan hijab yang dililitkan ke belakang dengan rapih dan wedges yang tak begitu tinggi menemani langkahnya dan ayunan tangannya yang menjinjing tas menuju ruang 628. Karena ini perkuliahan hari pertama dosen cantik itu mulai memperkenalkan dirinya. Dengan seksama aku memperhatikannya sambil memegang pulpen hitam di tangan kanan ku dan buku yang ada di atas mejaku.

Setelah selesai perkenalan dosen,tiba saatnya giliran mahasiswa yang memperkenalkan dirinya sambil berdiri di depan mahasiswa lain termasuk aku. Perkenalan pun berlangsung dengan baik, tapi ada satu mahasisiwa laki-laki berkulit putih, rambutnya gaya masa kini, memakai kaos berkerah berwarna abu-abu tua dengan lambang polo yang ada di kaosnya, serta jeans hitam dan sepatu kets yang menemaninya. Dia mulai memperkenalkan dirinya dengan berdiri di sebelah kanan di dekat tembok sambil mengepal-ngepal tangannya ke depan. Menurutku laki-laki ini tengil, tapi dari sekian mahasiswa yang memperkenalkan diri hanya laki-laki ini yang memberikan kesan dengan pengucapan namanya yang seperti logat orang jawa, walaupun sebenarnya dia bukan orang jawa. Hari-hari kulewati di ruang 628 ini, namun tak sedikitpun aku berpikir untuk menemukan kawan hati disini. Entah kebetulan atau tidak ternyata laki-laki tengil itu yang menjadi kawan hatiku. Semua cerita yang terjadi di ruangan ini aku rangkum menjadi kebahagiaan.